Menyoal Makam Halu Oleo, Pakar : Harus Ada Penelitian Jangan Asal Klaim

0
Dewan Pakar DPP LAT Sultra juga selaku Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UHO, Dr. Basrin Melamba, M.A. Foto: inditimes

KONAWE, INDITIMES.ID – Beberapa hari belakangan rencana pemugaran makam leluhur Suku Tolaki di Kabupaten Konawe  menjadi perbincangan panas di jagad sosial media utamanya facebook. Fokus utama perbincangan mengenai kontroversi makam Halu Oleo yang di klaim berada di Desa Diolo.

Melihat kondisi ini Dewan Pakar DPP LAT Sultra yang juga selaku Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UHO, Dr. Basrin Melamba, M.A., saat disambangi inditimes.id dikediamannya, Senin 18 Januari 2021, mengatakan sangat mengapresiasi langkah Pemda Konawe untuk melakukan pemugaran makam leluhur.

“Mengenai pemugaran, kita apresiasi niat pemerintah untuk memugar makam karena itu kewajiban pemerintah daerah sesuai dengan UU Nomor 5 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya mensyaratkan pemda memiliki kewenangan untuk memberikan anggaran guna pemugaran makam, yang dulu kewenangan itu ada di pemerintah pusat,” katanya.

Namun mengenai makam Halu Oleo yang diklaim berada di Desa Diolo, Kecamatan Bondoala, Basrin menegaskan perlu ada penelitian untuk membuktikan bahwa makam tersebut merupakan makam Halu Oleo, tidak asal klaim.

“Untuk menentukan itu (makam Halu Oleo,red) harus diteliti terlebih dahulu dengan disiplin Ilmu Arkeolog, Sejarah, dan harus ada tim teknis dari Balai Cagar Budaya. Dalam menentukan makam, apalagi ini makam leluhur itu harus mencari sumber-sumber tertulis, kebendaan, dan sumber lisan. Kita tidak boleh mengklaim bahwa itu adalah makam Halu Oleo hanya berdasarkan sumber lisan, itu sangat lemah,” tegasnya.

Baca Juga  ASN Konawe Tolak Vaksinasi, Bupati Kery Beri “Lampu Merah”

Apalagi makam di Desa Diolo tersebut memiliki versi berbeda, bahwa itu merupakan makam Tawuku Ulu atau Dao Dalo, Lalaea, atau Tandibali. Hal ini menurut Basrin dituturkan seorang informan yang mengaku keturunan Tawuku Ulu. Informasi mengenai penyangkalan makam yang datang dari beberapa tokoh adat juga menandakan bahwa makam tersebut masih menjadi kontroversi.

Lanjutnya, menentukan suatu makam hanya dengan sumber lisan memiliki banyak kelemahan, makin jauh makin kabur dengan adanya penambahan ataupun pengurangan dari penuturnya maupun si penerima. Kadang-kadang anakronisme, tidak berdasarkan urutan waktu

“Apalagi si penutur ini bukan sebagai saksi pada saat itu, yakni di abad 16. Tidak bisa dijadikan patokan, harus dikritik tentang tradisi ini,” ujarnya.

Kalaupun sumber lisan akan digunakan, lelaki yang memiliki tiga putri ini mengatakan sumber tersebut harus runut. Mulai dari siapa, dimana si penutur mendapatkan cerita, bagaimana si penutur memberikan keterangan, darimana asal usul cerita, dan apakah yang bersangkutan memiliki kejujuran dalam menyampaikan.

Mengenai pohon yang berada di makam yang diklaim sebagai pembaringan terakhir Halu Oleo, Basrin menuturkan perlu adanya penelitian lebih lanjut dari Dinas Kehutanan untuk mengetahui umur pohon tersebut.

“Temuan tentang pohon, dan kuburan besar itu, dimana-mana ada juga orang yang memiliki kuburan besar seperti di Asinua, Abuki, dan Lambuya banyak kuburan jenis seperti itu. Kemudian kenapa makam Halu Oleo  di Desa Diolo? Apa kedudukan Desa Diolo pada saat itu?,” tanyanya.

Baca Juga  Kunjungan Kerja Wakil Bupati Minahasa Tenggara di Kabupaten Konawe

Untuk melihat makam yang jelas-jelas situs budaya, dapat dilihat seperti makam Lakidende tidak ada penentangan karena kejelasan akan juru kuncinya diawal dan akhir abad ke-19 secara turun temurun, juga dari tipology makam lakidende ada empat, dengan nisan yang jelas, serta adanya sumber tertulis. Dalam penelitian makam Lakidende sebelumnya, didukung sumber tertulis, oral tradisian maupun koroborasi sumber.

“Kalau itu makam Halu Oleo, siapa yang bisa menunjukkan sumber tertulisnya?, harus ada tim terpadu yang meneliti, tim sejarah, arkeologi, dengan tim teknis dan tim lainnya yang dibutuhkan,” tandasnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here