Hasil Panen Melimpah, Lumbung Ketahanan Pangan Indonesia Timur Itu Konawe

0
Bupati Kery pimpin langsung panen perdana padi sawah di kawasan program pengembangan tiga kali tanam (IP. 300). Foto: ist

KONAWE, INDITIMES.ID – Konawe dikenal sebagai kabupaten penyangga akan pangan di Sulawesi Tenggara, hal ini disebabkan surplusnya beras setiap kali panen hingga diangka 200 ribu lebih ton, dengan kebutuhan masyarakat 110 kg pertahunnya perkapita.

Apalagi saat ini pihaknya sedang menerapkan program IP 300 di konawe, atau program tiga kali tanam dalam setahun. Salah satu garapan program tersebut di panen hari ini, Rabu 07 April 2021 di Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Tongauna secara langsung oleh Bupati Kery Saiful Konggoasa didampingi Kadis Pertanian Provinsi  Muh Djudul, Kadivre Bulog Sultra Ermin Tora, Ketua DPRD Konawe H. Ardin, Kajari Konawe Irwanuddin Tadjuddin, Kapolres Konawe AKBP Yudhi Kristanto, Sekda Konawe Ferdiand Sapan, dan Ketua PN Konawe Febrian Ali.

Melalui sambutannya Bupati Kery mengaku bangga atas kerja keras semua komponen khususnya para petani yang menjadi tulang punggung kemandirian pangan di otoritasnya.

“Saya sangat bangga dan mengapresiasi semua petani. Konawe ini memang daerah pertanian. Kita sudah terkenal sebagai daerah lumbung beras berkat usaha semua petani di Konawe,” ujarnya.

Ia meminta kesuksesan program percontohan sawah IP 300 dapat diadopsi ke semua basis persawahan di Konawe. Dengan begitu, produksi pertanian khususnya beras dapat merata. Namun tentunya, beberapa aspek lain guna menunjang keberhasilan program prioritas pemkab itupun, semisal aspek irigasi teknis, juga harus kian dimaksimalkan.

Baca Juga  Perkuat Eksistensi Sebagai Daerah Lumbung Beras, Pemda Konawe Segera Launching Produk Premium BerasKita

Bukan hanya itu, kemampuan penyerapan Bulog juga masih jauh dari hasil panen. Dimana Bulog ditahun 2020 hanya mampu menyerap 11 ribu ton dari 200 ribu lebih ton hasil panen, persoalan harga juga menjadi hal yang krusial bagi petani.

Kery mengatakan salah satu faktor yang membuat petani kadang malas untuk menanam karena tidak adanya motivasi khususnya masalah harga jual yang terlalu rendah yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pupuk subsidi yang harganya jauh diatas harga gabah perkilogram.

“Kenapa masyarakat kadang suka jenuh  menanam, karena biasa kadang harga jualnya rendah sekali, sehingga kita imbau kepada pemerintah supaya janganmi mengimpor. Coba dikumpul saja dibeberapa kabupaten ini kita siap, khususnya di konawe saja ini sekali panen kurang lebih 200 ribu lebih ton, yang diserap bulog cuman 11 ribu ton (2020,red),” bebernya.

Menanggapi hal tersebut, Kadiv Bulog Sultra Ermin Tora mengatakan untuk tahun ini pihaknya menargetkan menyerap gabah dari petani di Kabupaten Konawe sebesar 30 ribu ton, dengan harga beli Rp4200,- perkilo.

“Tahun 2020 penyerapan beras di Konawe didistribusikan dalam wilayah Sultra, peningkatan produksi tahun ini akan didistribusikan ke luar Sultra utamanya bagian timur Indonesia,” bebernya.

Sementara itu, Kadis Pertanian Sultra Muh Djudul memastikan Kabupaten Konawe menjadi role model atau percontohan bagi daerah lain di Sultra.

Baca Juga  Dua Hari Lagi, Konawe Berlakukan PPKM Mikro

Perlu diketahui, pertumbuhan ekonomi di Konawe tak lepas dari kontribusi sektor pertanian. Dengan luas areal persawahan sekira 42.500 hektar, perekonomian Konawe ditopang oleh sektor pertanian. Disamping sektor lain, yakni industri dan manufaktur.

Olehnya untuk menunjang dan makin meningkatkan pertanian di Konawe pihaknya akan terus berupaya seperti menyiapkan bibit padi berkualitas,  meningkatkan jalan usaha tani (JUT) serta hal-hal lain untuk pengembangan pangan berkelanjutan.

Sementara itu, salah seorang petani di kecamatan Tongauna, I Made Mirta menuturkan, sawah yang dipanen langsung oleh Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa, luasnya mencapai 2 hektare.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here