Edukasi Budaya Kampung Prai Ijing

Edukasi Budaya Kampung Prai Ijing – Kampung Adat Prai Ijing Sumba adalah satu dari sekian banyak lokasi wisata yang berbalut nilai budaya lokal, yang telah tersedia dari era dahulu, serta kebiasaan lokal yang tetap terjaga dengan baik.

Kampung Adat Prai Ijing terletak di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebuah kawasan yang diproyeksikan menjadi sebuah destinasi wisata oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Barat.

Secara pribadi, penulis sependapat dengan upaya tersebut. Karena sebuah negara, bangsa tidak boleh lupa dengan khazanah budaya lokal yang dimilikinya. Sekalipun di sedang pesatnya kemajuan jaman.

Kemajuan jaman, terlebih internet atau tempat sosial bisa menjadi sebuah tempat untuk terus mengkampanyeukan pelestarian wild bandito sebuah warisan budaya yang dimiliki oleh suatu daerah.

Lalu apa saja pesona yang dimiliki oleh Kampung Adat Prai Ijing Sumba? Maka inilah simak Rumah Adat Prai Ijing Sumba yang telah sukses kami rangkum untuk anda.

Lokasi Kampung Adat Prai Ijing Sumba

Lokasi Kampung Adat Prai Ijing berada di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Rute Menuju Kampung Prai Ijing Sumba

Rute menuju situs slot bet 200 Kampung  Adat Prai Ijing dari Bandar Udara Tambolaka ialah dengan menuju Waikabubak. Untuk seterusnya kamu bakal melaju lebih kurang 2,6 km hingga selanjutnya tiba di Kampung Prai Ijing.

Daya Tarik Kampung Prai Ijing Sumba

1. Rumah Adat Kampung Prai Ijing

Sajian utama Kampung Prai Ijing Sumba adalah sajian wisata budaya. Kawasan Kampung Adat Prai Ijing Sumba di huni oleh 7 kabisu, atau marga orang Sumba. Di antaranya:

  • Wola Bawa
  • Wola Deta
  • Katoda Doungu
  • We’e Yewa
  • Tanabi
  • We’e Lewa
  • Wola

Nilai edukasi yang bisa di saksikan adalah kerukunan antar marga. Begitupun sikap ramah bagi tamu atau pengunjung yang datang. Adapun pemimpin atau tetua, Ratu Adat Kampung Adat Prai Ijing Sumba di sebut dengan Katoda Watu.

Bentuk Rumah Adat Prai Ijing Sumba adalah energi tarik yang paling memikat bagi para pengunjung yang datang. Bentuknya seragam, meskipun ketinggiannya tersedia yang berbeda.

Tentu saja terlalu jauh berlainan dengan wujud bangunan tempat tinggal yang biasa kami temui. Hal ini menjadikan sebuah view yang tidak biasa, dan bisa mengakibatkan rasa penasaran wisatawan untuk berkunjung ke Kampung Prai Ijing Prai Ijing Sumba.

2. Sajian Wisata Alam

Daya tarik yang ke dua dari Kampung Prai Ijing Sumba terletak dari view alam lebih kurang yang tetap asri. Perlu di ketahui bahwa kawasan Kmapung Prai Ijing Sumba berada di Bukit Praijing.

Dari atas bukit tersebut, nampak pemandangan Ibu Kota Sumba Barat. Dan kawasan Rumah Adat Prai Ijing Sumba yang di dominasi dengan daerah sawah.

Baca Juga: Panorama Alam Tanjung Gaang yang Memikat Hati

Filosofi Rumah Adat Prai Ijing Sumba

Di mana pun lokasinya, bahwa setiap tempat tinggal rutinitas mempunyai nilai filosofi dalam bentuk, maupun bahan bangunannya.

Termasuk Rumah Adat Prai Ijing Sumba. Tentu saja filofi pembangunan di mulai oleh para leluhur, sesudah itu nilai berikut di rawat dari generasi ke generasi.

Garis besar wujud Rumah Adat Prai Ijing Sumba terbagi menjadi 3 bagian. Yaitu :

1. Uma Daluku

Yaitu bagian yang paling atas, atau di sebut juga dengan menara. Fungsinya sebagai daerah untuk menimpan bahan makanan, dan alat-alat pusaka.

Tinggi Rumah Adat Prai Ijing Sumba bisa capai 30 meter. Bentuk khas nya bisa menjadi view eksotis bagi siapapun yang melihat.

2. Rongu Uma

Rongu Uma adalah bagian sedang dari Rumah Adat Prai Ijing Sumba. Fungsinya sebagai daerah tinggal, dan bahan bangunannya di dominasi oleh kayu dan rumbai.

3. Lei Bangun

Lei Bangun adalah bagian bawah atau kolong dari Rumah Adat Prai Ijing Sumba. Fungsinya sebagai daerah hewan ternak.

Selain itu, di kawasan Rumah Adat Prai Ijing Sumba terkandung makam batu yang di anggap telah tersedia dari sejak era megalitikum.

Tradisi penghormatan kepada leluhur, adalah kebiasaan yang tetap terjaga baik. Selain itu, terkandung juga tulang kepala kerbau yang terletak di depan tempat tinggal adat.

Tengkorak kerbau berikut membawa nilai filosofis sebagai tempat pengingat bakal kematian yang tentu bakal berkunjung kepada siapapun.

Tulisan ini dipublikasikan di Wisata dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *